Menceritakan Kembali Dongeng Timun Mas untuk "Kids Zaman Now" - Warta 24 Nusa Tenggara Barat
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}
www.uhamka.ac.id/reg

Menceritakan Kembali Dongeng Timun Mas untuk "Kids Zaman Now"

Menceritakan Kembali Dongeng Timun Mas untuk "Kids Zaman Now"

KOMPAS.com/Teuku Muh Guci S Bagong Subarjo, seorang dalang asal Kota Yogyakarta yang mendongengkan legenda tentang Timun Mas di Hutan Sekolah Hutan Pinus Sari…

Menceritakan Kembali Dongeng Timun Mas untuk "Kids Zaman Now"

Bagong Subarjo, seorang dalang asal Kota Yogyakarta yang mendongengkan legenda tentang Timun Mas di Hutan Sekolah Hutan Pinus Sari, Desa Mangunan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (9/12/2017). KOMPAS.com/Teuku Muh Guci S Bagong Subarjo, seorang dalang asal Kota Yogyakarta yang mendongengkan legenda tentang Timun Mas di Hutan Sekolah Hutan Pinus Sari, Desa Mangunan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (9/12/2017).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - "Bapak, Simbok, aku slamet (Bapak, ibu, saya selamat)," kata seorang anak perempuan di Sekolah Hutan Pinus Sari, Desa Mangunan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (9/12/2017).

Ungkapan itu terlontar setelah anak berusia 12 tahun ini berhasil melarikan diri dari kejaran seorang raksasa bernama Buto Ijo. Ternyata Buto Ijo yang merupakan raksasa bertaring dan berkulit hijau itu ingin memangsanya hidup-hidup.

Namun niatan Buto Ijo urung terwujud lantaran anak perempuan itu berhasil menghabisinya. Hanya dengan tiga benda, yaitu jarum, garam, dan terasi, Buto Ijo tak bisa menyentuh sehelai rambut bocah perempuan tersebut. Ia justru sirna di muka bumi setelah terjerembab ke dalam lumpur isap.

Mengetahui lolos dari kejaran, anak perempuan itu pun bersyukur kepada Sang Pencipta telah diberikan keselamatan. Lantas dia pulang ke rumahnya untuk bertemu dengan orangtuanya yang berdoa untuk keselamatannya.

Bocah perempuan itu akhirnya bisa hidup bahagia bersama orangtuanya tanpa ada rasa takut terhadap Buto Ijo.

"Terima kasih yang tak terhingga,& quot; ujar anak perempuan tersebut diikuti alunan suara gamelan di kawasan Sekolah Hutan Pinus Sari usai anak perempuan menyatakan rasa syukurnya tersebut.

Suara gamelan itu menjadi tanda akhirnya pagelaran yang digelar di panggung Hutan Pinus Sari tersebut.

Ya, sepenggal kisah anak perempuan dan Buto Ijo ini merupakan cerita rakyat bertajuk Timun Mas. Legenda ini diceritakan Bagong Subarjo, seorang dalang sekaligus pembuat wayang. Dia mendongengkan cerita rakyat asal Jawa Tengah itu di hadapan pengunjung yang datang dalam acara Pagelaran Dongeng Jogja.

Bagong merupakan satu dari sembilan pedongeng yang tampil dalam acara tersebut.

Selain Bagong, Gunawan Maryanto, seorang sastrawan juga ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Berbeda dengan Bagong, dia mengisahkan seorang tokoh pewayangan yang terkenal sangat jujur, yaitu Puntadewa atau lebih dikenal dengan nama Yudistira.

Yudistira merupakan anak tertua di antara lima Pandawa, keturunan Raja Hast inapura, dalam kisah Mahabharata.

"Karena tema acara ini kejujuran, langsung saya terbesit Yudistira untuk bercerita," kata Gunawan di atas panggung.

Dalam kisah Mahabharata yang diceritakan Gunawan, Pandawa Lima harus menghadapi dilema ketika menghadapi gurunya, Begawan Durna, yang justru memihak musuhnya, yaitu Korawa. Bukan tanpa sebab, Begawan memiliki kesaktian yang membuat keder Pandawa Lima.

Namun, Kresna yang menjadi juru taktik Kerajaan Hastinapura pun bersiasat. Ia meminta Bima, adik Yudistira, untuk menyebarkan informasi palsu jika Aswatama, anak kesayangan Begawan, telah mati. Padahal yang telah mati itu merupakan seekor gajah berna Estitama. Kabar palsu ini pun langsung didengar Begawan.

Lantas Begawan yang awalnya besemangat ingin melawan Pandawa Lima itu berubah setelah mendengar kabar tentang anakanya tersebut. Untuk meyakinkan kabar itu, Begawan pun melakukan verifikasi kepada Bima.

"Jangan-jangan itu cuman kabar boh ong, kayak di media sosial sekarang ini, memecah belah dan sebagainya," kata Gunawan menyelipkan pesan-pesan dalam ceritanya.

Bima yang mengetahui kabar itu hanya siasat untuk mengendurkan semangat Begawan itu pun meyakinkan gurunya jika Aswatama benar-benar mati. Begawan tak lantas percaya begitu saja, ia pun mendatangi Arjuna, murid kesayangannya. Jawaban serupan didapatnya ketika menanyakan kebenaran kabar tewasnya Aswatama.

Kesedihan Begawan pun membuncah. Namun ia masih tak percaya dengan jawaban kedua tokoh Pandawa Lima itu. Lantas ia mendatangi Yudistira yang dikenal sangat jujur untuk meyakinkannya. Ia baru merasa yakin jika kebenaran tentang kematian anaknya itu dikatakan Yudistira.

"Kamu adalah orang paling jujur, karena jujur telapak kakimu mengambang lima sentimeter di atas tanah. Apakah benar Aswatama sudah mati?" kata Gunawan seolah menjadi Begawan.

Yudistira diam sejenak ketika mendapatkan pertanyaan tersebut. I a pun bersiasat untuk mempertahankan kejujuran dan tak menipu gurunya. Mengetahui pendengaran gurunya kurang baik, ia menyebut nama gajah yang mati kepada gurunya dengan cara berbisik. "Iya Estitama telah mati," kata Gunawan dengan nada lirih.

Meski Yudistira berkata jujur, Begawan jusru mendengar jawaban jika Aswatama telah mati. Tak ayal, semangatnya untuk melawan Pandawa Lima pun runtuh mendapatkan jawaban dari seorang yang paling jujur tersebut. Lunturnya semangat Begawan itu meenjadi akhir cerita yang didongengkan Gunawan.

"Demikian adik-adik, betapa susahnya menjaga kejujuran dan kebenaran yang ingin disampaikan," kata Gunawan di akhir cerita.

Pagelaran Dongeng Jogja yang diselenggarakan Rumah Dongeng Mentari itu dihadiri penonton, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, dan pengunjung Hutan Pinus Sari. Tak hanya mendengarkan dongeng, para penonton juga diajak berimajinasi oleh para pedongeng.

Founder Rumah Dongeng Me ntari, Putri Arum Sari, mengatakan, Pagelaran Dongeng Jogja merupakan puncak kegiatan Awicarita Festival. Awicarita Festival, kata dia, merupakan kegiatan untuk mempopulerkan kembali budaya mendongeng kepada generasi muda saat ini.

"Awicarita itu rangkaian kegiatan yang isinya menebarkan semangat mendongeng kembali," kata Arum.

Arum menjelaskan, dongeng merupakan sarana untuk mengajar tanpa menggurui. Sebab, anak-anak ditanamkan nilai-nilai baik dengan cara yang menyenangkan. Tak hanya itu, kata dia, dongeng memberikan dampak positif bagi anak dan orangtua untuk jangka panjang dan pendek.

"Jangka pendek misalnya kita deket sama anak, anak tidak mainan dengan gadget, dan ada interaksi fisik antara orangtua dan anak," kata Arum.

"Kalau jangka panjang, menurut salah satu buku dari Inggris itu bisa merubah mainset seseorang dan merubah seseorang itu punya semangat yang lebih dan keinginan yang lebih karena dongeng itu seperti memberikan cita-cita dan cerita yang baik tanpa menggurui," kata Arum menambahkan.

Arum mengatakan, rangkaian kegiatan Awicarita Festival sudah berlangsung sejak 29 Oktober. Menurutnya, Awicarita Festival digelar di sejumlah kota, yaitu Bali, Semarang, dan Surabaya. Kegiatan itu berupa jelajah dongeng, sayembara pedongen cilik, kelas negeri dongeng, dan puncaknya Pagelaran Dongeng Jogja.

"Ini event kedua dari Rumah Dongeng Mentari, Semoga bisa lebih besar manfaatnya dan lebih luas semangat mendongengnya, jadi bukan lingkup di jogja tapi sampai di Jakarta juga," kata dia.

Terkini Lainnya

Jokowi Batal Kunjungi Pengungsi Banjir dan Longsor di Wonogiri

Jokowi Batal Kunjungi Pengungsi Banjir dan Longsor di Wonogiri

Regional 10/12/2017, 11:59 WIB Sandiaga Tersenyum Didoakan Jadi Wakil Presiden

Sandiaga Tersenyum Didoakan Jadi Wakil Presiden

Megapolitan 10/12/2017, 11:57 WI B Presiden Palestina Tolak Bertemu Wakil Presiden AS

Presiden Palestina Tolak Bertemu Wakil Presiden AS

Internasional 10/12/2017, 11:53 WIB Ini Alasan Manajemen Cinere Bellevue Tak Hadiri Mediasi Bersama Warga dan DPRD Kota Depok

Ini Alasan Manajemen Cinere Bellevue Tak Hadiri Mediasi Bersama Warga dan DPRD Kota Depok

Megapolitan 10/12/2017, 11:51 WIB Mimpi Warga Jakarta di Atas Palka Merah yang Mengapung di Waduk Cincin

Mimpi Warga Jakarta di Atas Palka Merah yang Mengapung di Waduk Cincin

Megapolitan 10/12/2017, 11:45 WIB Tak Perlu Rapat, Ketum ICMI Resmi Dukung Jokowi Dua Periode

Tak Perlu Rapat, Ketum ICMI Resmi Dukung Jokowi Dua Periode

Nasional 10/12/2017, 11:38 WIB Diculik Militer, Perempuan Ini Baru Bertemu Keluarganya Setelah 40 Tahun

Diculik Militer, Perempuan Ini Baru Bertemu Keluarganya Setelah 40 Tahun

Internasional 10/12/2017, 11:15 WIB Aksi Bela Palestina di Depan Kedubes AS, Halte Transjakarta Balai Kota dan Gambir 2 Tak Beroperasi

Aksi Bela Palestina di Depan Kedubes AS, Halte Transjak arta Balai Kota dan Gambir 2 Tak Beroperasi

Megapolitan 10/12/2017, 11:13 WIB Aksi Bela Palestina, Jalan Medan Merdeka Selatan Ditutup Sementara

Aksi Bela Palestina, Jalan Medan Merdeka Selatan Ditutup Sementara

Megapolitan 10/12/2017, 11:06 WIB Tak Ingin Jadi 'Meme' yang Memecah Belah, Anies-Sandi Tak Lagi Unggah Video Rapat di YouTube

Tak Ingin Jadi "Meme" yang Memecah Belah, Anies-Sandi Tak Lagi Unggah Video Rapat di YouTube

Megapolitan 10/12/2017, 11:01 WIB Pernyataan Trump Merusak Upaya Perdamaian Israel dan    Palestina

Pernyataan Trump Merusak Upaya Perdamaian Israel dan Palestina

Nasional 10/12/2017, 10:50 WIB Pernyataan Jimly Dukung Jokowi Dua Periode Tuai Protes Internal ICMI

Pernyataan Jimly Dukung Jokowi Dua Periode Tuai Protes Internal ICMI

Nasional 10/12/2017, 10:37 WIB Skeptis pada Media Sosial, Tantangan bagi Generasi Milenial

Skeptis pada Media Sosial, Tantangan bagi Generasi Milenial

Nasional 10/12/2017, 10:28 WIB Waduk Cincin, Potensi Tempat Rekreasi Baru yang Menarik di Jakarta

Waduk Cinci n, Potensi Tempat Rekreasi Baru yang Menarik di Jakarta

Megapolitan 10/12/2017, 10:24 WIB Aksi Bela Palestina Dikawal 1.200 Polisi dan Anggota TNI

Aksi Bela Palestina Dikawal 1.200 Polisi dan Anggota TNI

Megapolitan 10/12/2017, 10:20 WIB Load MoreSumber: Google News | Warta 24 Kabupaten Bima

Tidak ada komentar