Piknik ke Pasar Pancingan, Lombok - Warta 24 Nusa Tenggara Barat
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}
www.uhamka.ac.id/reg

Piknik ke Pasar Pancingan, Lombok

Piknik ke Pasar Pancingan, Lombok

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL Il…

Piknik ke Pasar Pancingan, Lombok

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
Ilustrasi
Ilustrasi
© duchy /Shutterstock

Untuk menarik kunjungan wisatawan, ada banyak cara yang dilakukan oleh sebuah daerah, salah satunya adalah membuat objek wisata baru dengan konsep yang segar dan unik.

Hal ini baru saja dilakukan oleh Lombok. Meski memiliki aneka wisata alam yang lebih dahulu populer, Lombok juga tak ingin ketinggalan menciptakan sesuatu yang baru bagi wisatawan.

Setelah menggelar Pasar Karetan di Kendal, Jawa Tengah, komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) juga membuat acara serupa di ko ta Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Acara yang diadakan setiap hari Minggu ini diberi nama Pasar Pancingan. Salah satu daya tariknya adalah memancing. Ikan hasil tangkapan bisa langsung diolah menjadi masakan.

"Tidak hanya kuliner ikan, tapi akan ada 30 menu kuliner khas Lombok, menu andalan Desa Bilebante dan menu modern lainnya," ujar Jhe Ipul, Ketua GenPI Lombok Sumbawa.

Pada awal digelar, selebritas Gracia Indri juga turut memopulerkan oleh-oleh khas Manado buatannya di Pasar Pancingan. Menurut Gracia, Pasar Pancingan ini benar-benar unik. Bisa memadukan market offline dan online. Penjual dan pembeli bisa berkumpul di satu tempat yang sangat digital lifestyle.

"Pasar Pancingan ini bakal menjadi tempat favorit bagi anak muda yang gemar foto-foto di spot yang bagus. Atau foto-foto selfie dengan aneka kuliner yang banyak jenisnya," ujar Gracia.

Jhe mengatakan bahwa Pasar Pancingan merupakan model wisata atraksi wisata yang konsepnya mengambil dari Pasar Karetan dengan berbagai modifikasi agar lebih sesuai dengan karakter yang ada di Lombok dan Sumbawa.

Ide Pasar Pancingan ini mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurut Arief, konsep ini juga akan banyak dihadirkan oleh komunitas GenPI lainnya di berbagai daerah.

"Menciptakan atraksi baru yang kekinian dengan memanfaatkan potensi lokal serta menggandeng unsur Pentahelix. Ini merupakan acara yang tidak hanya mengangkat nilai budaya tapi juga akan menciptakan nilai ekonomis sehingga akan membuatnya berkesinambungan," ujar Arief kepada CNNIndonesia.com.

Jenis pasar seperti ini diharapkan menjadi bentuk kopi darat atau offline komunitas warganet dan masyarakat umum. Seperti yang dikatakan Mansyur Ebo, Koordinator GenPI Nasional, anak zaman sekarang tidak mau tempat wisata yang biasa-biasa saja. Semua harus punya cerita, asyik di foto, dan kreatif.

"Mereka maunya berlama-lama nongkrong, seperti di kafe, asal jaringan telekomunikasinya bagus," kata Mansyur.

Untuk memperkuat daya tarik dan daya saing destinasi, Pasar Pancingan akan punya banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Konsepnya adalah gabungan dari alam, budaya, dan produk-produk buatan tangan.

Selain kegiatan di pasar, GenPI juga turut mengangkat potensi dan promosi Desa Wisata Bilebante di Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah.

Dalam bahasa Sasak, Bilbante berasal dari dua kata, yaitu buah maja dan Bante yang berarti semak belukar.

Bilebante merupakan istilah dari dua kata dalam bahasa Sasak yaitu Bile yang berarti buah maja dan Bante yang berarti semak belukar.

"Jadi Bilebante artinya pohon bile yang ditumbuhi semak belukar sampai mati dan akhirnya terbentuklah nama desa Bilebante," ujar Pahrul Azim, Ketua Desa Wisata Hijau.

Desa Bilbante telah dikembangkan sejak tahun 2015. Pada awalnya, Bilbante disebut desa 'debu' karena banyakny a lokasi galian pasir yang membuat debu beterbangan. Namun, oleh ketua desa dan pemuda setempat, desa tersebut diubah menjadi desa wisata.

Kegiatan yang bisa dilakukan di Desa Bilbante adalah bersepeda keliling desa dan melihat langsung pemukiman dan aktivitas warga, tepian sungai, pematang sawah, kebun sayur dan buah, Jembatan Lime (Lima) yang merupakan peninggalan Belanda pada era 40-an, serta juga Pura Lingkar Kelud yang merupakan Pura tertua di Lombok Tengah.

Pengunjung juga bisa melihat langsung masyarakat menanam padi, juga proses pembuatan topi khas lokal "Kekere".

Sumber: Google News | Warta 24 Sumbawa

Tidak ada komentar